Warning: include_once(ad.class.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/onoz3554/public_html/wp-content/plugins/simple-ads-manager/simple-ads-manager.php on line 33

Warning: include_once(): Failed opening 'ad.class.php' for inclusion (include_path='.:/usr/lib/php:/usr/local/lib/php') in /home/onoz3554/public_html/wp-content/plugins/simple-ads-manager/simple-ads-manager.php on line 33

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/onoz3554/public_html/wp-content/plugins/simple-ads-manager/simple-ads-manager.php:33) in /home/onoz3554/public_html/wp-includes/feed-rss2.php on line 8
Ono Niha Development And Heritage http://ono-niha.com Mon, 10 Aug 2015 21:14:52 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=3.8.34 Siap Dipasarkan Aneka Kreasi Anyaman Produk Kerajinan Unggulan Khas Nias http://ono-niha.com/2015/06/siap-dipasarkan-aneka-kreasi-anyaman-produk-kerajinan-unggulan-khas-nias/ http://ono-niha.com/2015/06/siap-dipasarkan-aneka-kreasi-anyaman-produk-kerajinan-unggulan-khas-nias/#comments Sat, 06 Jun 2015 00:51:21 +0000 http://ono-niha.com/?p=569 Ono Niha/SRFD- sebagai upaya pro aktif dalam menindaklanjuti permintaan masyarakat untuk mengatasi kesulitan ekonomi akibat ambruknya harga jual beberapa hasil bumi di Kepulauan Nias, maka Komunitas Ono Niha Development & Heritage merintis beberapa peluang yang melibatkan masyarakat desa, khususnya kaum ibu dan perempuan. Komunitas memberikan nama pada pekerjaan ini sebagai Program Penguatan Peranan Perempuan, Keluarga dan Perdesaan. Pendekatan tersebut berupa merevitalisasi kembali aneka pengetahuan lokal masyarakat tradisional yang telah dan hampir punah, seperti keahlian menganyam, keahlian bercocok-tanam, keahlian menenun dan keahlian mengolah bahan pangan.

Upaya dilakukan di seluruh desa di Kepulauan Nias yang bersedia dan siap untuk menggali potensi desanya. Partisipasi masyarakat yang dibangun dan dibina serta telah mengkristal yakni salah satunya pada kreasi anyaman yang berhasil dihidupkan kembali. Langkah terpadu tersebut diawali dengan mengembangbiakkan bahan baku anyaman secara intensif dan berakhir hingga pada proses finishing sebuah produk.

Aneka produk bisa dilihat pada gambar berikut, berupa tempat sirih tradisional, wadah multi fungsi, tas pesta, tas kerja, taplak meja, dekorasi rumah, tas laptop/handphone, hiasan dinding, lampu hias, dsb. Koleksi anyaman khas Nias serta  proses pembuatannya dapat dilihat langsung di workshop OMO NUFO SINASA dengan membuat termin pertemuan terlebih dahulu.

ANEKA TAPLAK MEJA BERBAGAI BENTUK, MOTIF DAN LAPISAN

155Taplak meja 40x50cm

187

99

100

ANEKA DOMPET DAN TAS MAKE UP BERAGAM MOTIF DAN WARNA

 163

164

160

161

 ANEKA TAS LAPTOP/NOTEBOOK

105-vert67a

Tas laptop atau notebook bentuk dompet besar atau map

103

104

ANEKA TAS PESTA/CLUTCH

98
96

90

 ANEKA TEMPAT SIRIH KHAS NIAS DENGAN BERBAGAI MOTIF, LAPISAN DAN KOMBINASI

65

 

62

10

Foto koleksi Sara Rai F. Duha by Omo Nufo Sinasa

Seluruh produk/katalog bisa dipesan melalui:

OMO NUFO SINASA (Workshop)

Jl. Saonigeho Km. 3, Telukdalam 22865

Kabupaten Nias Selatan/Pulau Nias

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather]]>
http://ono-niha.com/2015/06/siap-dipasarkan-aneka-kreasi-anyaman-produk-kerajinan-unggulan-khas-nias/feed/ 0
Ketika Polimer Semakin Beken dan Pintar Beradaptasi http://ono-niha.com/2015/05/ketika-polimer-semakin-beken-dan-pintar-beradaptasi/ http://ono-niha.com/2015/05/ketika-polimer-semakin-beken-dan-pintar-beradaptasi/#comments Fri, 29 May 2015 00:01:02 +0000 http://ono-niha.com/?p=551 Fakhe NifaloguKeributan sepekan telah menyita perhatian seluruh kelompok masyarakat tentang perdebatan polimer yang dilaporkan telah hadir dalam wujud pangan paling dasar di negara kita yaitu berupa beras plastik. Peranan plastik masih relatif baru dalam kebutuhan hidup manusia modern, namun pemasarannya sangat luar biasa ketika senyawa ini kemudian dikembangkan, dikombinasikan dan diproduksi sebagai alat bantu rumah tangga. (Oleh: Noniawati Telaumbanua)

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI: ANTARA GIGITAN LEGIT DAN KEKUATAN MASSA ON-LINE

Dalam penjelasan resmi setelah melalui uji beberapa labor, disimpulkan bahwa beras plastik seperti yang diisukan tersebut ternyata tidak benar. Selanjutnya dijelaskan bahwa secara teknologi pembuatan bulir beras sangatlah rumit serta tidak mungkin. Teknologi untuk beras plastik pastilah amat sangat mahal dan pasti jauh lebih mahal dari harga beras asli.

Namun, masyarakat kadung tersengat oleh gigitan serangga TI yang hanya sepersekian detik menyebar dan menjalar ke sekujur organ-organ inti sosial masyarakat hingga ke pedalaman. Ketajaman gigitan serangga TI ini tidak perlu lagi diragukan bahwa efeknya tidak terhenti pada isu beras plastik saja di kemudian hari.

Dalam pengamatan sejak tahun 2008, kemampuan penyebaran TI di Indonesia khususnya pada daerah-daerah terluar dan terpencil masih sangat mustahil bahkan hanya untuk on line sesaat saja sangat menguras energi dan waktu. Bayangkan bahwa untuk sebuah jaringan yang bagus dalam waktu lima menit saja, sebaiknya on line antara pkl. 02.00-03.00 WIB. Itu pun bila listrik tidak padam. Sekarang di tahun 2015, perkembangan TI dan perangkatnya sudah sangat mutakhir. Akses bisa diperoleh pada segala kesempatan dan oleh batita sekalipun.

Janganlah heran bila isu seperti beras plastik yang menyangkut makanan pokok masyarakat Indonesia terekspos ke mana-mana tanpa bisa dibendung. Massa yang on line telah membentuk masyarakat global yang berbincang-bincang dalam waktu dan ruang yang tidak terbatas. Menggosip telah naik pamornya, dari yang dahulunya hanya dilakukan dengan berbisik-bisik di balik dinding kamar, sekarang dibalik sebuah sentuhan jari saja. Gosip telah mengglobal.

PLASTIK TELAH MERAMBAH HINGGA KE RANTAI MAKANAN

Bila masyarakat jeli, semestinya tidak perlu terlalu terpancing mengkritisi beras plastik namun seakan luput memperhatikan panutan sehari-hari dalam memanfaatkan aneka fasilitas berbahan polimer ini. Jauh sebelumnya, masyarakat telah diingatkan akan perlunya perhatian serius bila memanfaatkan plastik dan derivatnya. Beberapa kilas balik yang mungkin bisa menghantarkan ingatan pada beberapa pola hidup sehari-hari berupa:

  1. Pemanfaatan aneka produksi melamin yang tidak sesuai peruntukannya;
  2. Makanan panas ditempatkan dalam wadah kantong atau bungkusan berbahan plastik;
  3. Saat menggoreng penganan ringan, beberapa orang telah lumrah memasukkan minyak goreng bersamaan dengan kemasannya karena anggapan gorengan akan lebih renyah;
  4. Saat melakukan perebusan jeroan (contohnya otak anak sapi/anak babi pada makanan khas daerah) atau daging yang dikhususkan sudah tidak lagi berbungkus daun pisang atau kain katun, melainkan dengan bungkusan plastik;
  5. Memasak lontong nasi bukan lagi dalam kantong ketupat alamiah melainkan di dalam kantong plastik;
  6. Kegemaran memanfaatkan aneka bahan plastik sebagai wadah apa pun pada segala kesempatan;

Contoh di atas barulah sebagian saja dan ini telah menjadi bagian pola hidup sehari-hari. Tidak ada lagi kesempatan bagi masyarakat untuk tidak menggunakan bahan plastik bila berhubungan dengan apa pun yang dikonsumsinya setiap hari. Bila wadah yang dipergunakan tidaklah tepat bahannya, seperti makanan panas hanya diperkenankan pada wadah yang tepat, yang petunjuk pemakaiannya bisa dilihat pada permukaan wadah, maka polimer akan bereaksi atau meleleh dan makanan sudah pasti terkontaminasi. Selain itu, ada jenis plastik yang tidak boleh dimanfaatkan sebagai wadah makanan panas. Plastik pun tidak boleh dimasak bersama dengan makanan atau sup atau gorengan.

Polimer telah masuk ke rantai makanan kita. Dalam hal apa masyarakat masih meributkan beras plastik, namun berpuluh tahun telah melakoni aneka polimerisasi ke dalam makanannya setiap harinya?

 

PENUTUP

Hal paling inti dan tercepat saat ini yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi mengguritanya peleburan polimer ke dalam pangan adalah dengan berhati-hati memanfaatkan aneka produk plastik, manfaatkan sebijaksana mungkin. Wadah alamiah masih banyak tersedia di alam. Produk ramah lingkungan dan ramah makanan sudah banyak diproduksi.

Artikel Beras PlastikFoto: Sebuah warung  lontong nasi dan pusat jajanan gorengan yang aman konsumsi di  Jalan Setiabudi, Medan

Masyarakat juga sudah waktunya membutuhkan “vaksin TI” berupa informasi yang benar dan tepat untuk memberikan pemahaman menyehatkan, menangkal segala isu yang meresahkan dan bukan sekedar berita kosong.

Masyarakat pintar TI juga harus didukung oleh gencarnya propaganda pangan sehat. (Silent Time, 29/05/2015)

 

 

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather]]>
http://ono-niha.com/2015/05/ketika-polimer-semakin-beken-dan-pintar-beradaptasi/feed/ 0
Babak Baru Satu Dekade “Gempa Nias 28 Maret 2005″ http://ono-niha.com/2015/04/babak-baru-satu-dekade-gempa-nias-28-maret-2005/ http://ono-niha.com/2015/04/babak-baru-satu-dekade-gempa-nias-28-maret-2005/#comments Wed, 01 Apr 2015 01:36:58 +0000 http://ono-niha.com/?p=513 Gempa Maret tahun 2005 telah membuat Kepulauan Nias berada pada titik nol selama bertahun-tahun. Satu dekade kemudian refleksi tersebut diungkapkan oleh komunitas ONO NIHA DEVELOPMENT & HERITAGE bersama OMO NUFO SINASA (Rumah Anyaman Perempuan Nias) melalui “2nd Event of Succulent Tanö Niha-Nias Islands-10 Years After The Biggest Earthquake 2005, March 28”.

2

Perhelatan kedua yang dilaksanakan sejak tahun 2014 kali ini mengusung sejumlah sub tema sebagai upaya untuk memperkenalkan secara kronologis perihal perkembangan pembangunan, sosial, budaya dan kuliner asli Kepulauan Nias, sekaligus memperkenalkan berbagai produk unggulan yang dikerjakan oleh perempuan dan ibu-ibu rumah tangga dari seluruh Kepulauan Nias.

DUKUNGAN DAN ANTUSIASME PENGUNJUNG

Dukungan terhadap acara ini kemudian berkembang pesat dalam satu minggu setelah diumumkan pelaksanaannya oleh tim pemasaran. Sejumlah guru besar dari perguruan tinggi di Indonesia, anggota DPR-RI asal Nias Marinus Gea dan Ibu, Kel. Ilham Mendröfa, stakeholders dan petinggi teratas organisasi atau perusahaan serta media terbesar Ibukota, seperti OBOR BERKAT INDONESIA (OBI), PMA PT. ESRI INDONESIA, PT. SINAR KASIH, sejumlah alumni Jerman, PMA SAMUDERA INDONESIA, PMA PT. TIRTAKREASI AMRITA, Majalah FEMINA, SATU HARAPAN, RUMAH NIAS, Komunita JALAN SUTRA, Komunitas-komunitas PENCINTA KAIN dan TEKSTIL INDONESIA mendukung bahkan menghadiri event ini. Secara mengejutkan dan tidak kalah penting, turut hadir dalam event bersejarah ini yakni Restu Jaya Duha, Kadis Pertanian Kabupaten Nias Selatan, yang baru saja tiba dari menghadiri rapat di luar Jakarta, kemudian didapuk menyampaikan arahan mewakili pemerintahan se-Kepulauan Nias.FOTO BERSAMA

Pada kesempatan tersebut sejumlah presentasi dan pemaparan sangat penting dan menarik perhatian pengunjung disampaikan oleh Noniawati Telaumbanua, Marinus Gea, OBOR BERKAT INDONESIA, PT. ESRI INDONESIA dan Rebecca Laiya  dengan topik mengenai seluruh aspek yang terkait dalam pembangunan Kepulauan Nias.

Noniawati, pemimpin komunitas ONO NIHA DEVELOPMENT & HERITAGE dan OMO NUFO SINASA (Rumah Anyaman Perempuan Nias) sekaligus pelaksana Event of Succulent Tanö Niha menyampaikan kilas balik pembangunan seluruh Kepulauan Nias 10 tahun terakhir dalam slide foto,  kuliner kuno yang mewakili seluruh bagian wilayah dari Kepulauan Nias dan puluhan motif anyaman kuno yang berhasil direvitalisasi dan diproduksi sebagai produk trendy masa kini. Disampaikan pula bahwa inisiatif untuk melaksanakan acara dan mendukung para pengrajin adalah merupakan dukungan finansial pribadi. Seiring dengan berjalannya waktu, tim pemasaran dengan strategi yang positif telah mampu menarik minat para kostumer dan pendukung baik untuk para pengrajin maupun pada event yang dilaksanakan serta yang sedang direncanakan.

Marinus Gea menyampaikan sejumlah pandangan mengembangkan daerah pariwisata khususnya Nias mulai dari sisi perencanaan, penganggaran dan upaya-upaya konkrit pada beberapa tantangan yang dialami oleh daerah-daerah kepulauan. Lebih lanjut, Anggota DPR-RI DAPIL Banten yang berasal dari Nias tersebut menyampaikan bahwa dukungan positif akan diberikan kepada Kepulauan Nias, khususnya melalui event-event seperti ini.

OBOR BERKAT INDONESIA, yang telah membuka kantornya di Kota Gunungsitoli, memaparkan pekerjaan selama masa gempa di Nias hingga berkarya satu dekade lamanya serta memperkenalkan berbagai program kerja yang dilakukan di seluruh Indonesia. OBI mengulas juga berbagai tantangan dan peluang pada pembangunan yang dapat dilaksanakan bersama-sama masyarakat Nias, di mana saat ini jangkauan pekerjaan sudah dimulai ke arah Nias Selatan. Program-program ini pun ditindaklanjuti hanya dalam sehari setelah acara dan siap untuk direalisasikan.

Surprise datang dari dukungan perusahaan penanaman modal asing yang menyambut baik undangan untuk menghadiri event ini. PT. ESRI INDONESIA bersedia berbagi ilmu, memperkenalkan, menjelaskan manfaat, peluang dan tantangan tentang sistem informasi geospasial (SIG) yang pada masa kini telah berkembang luar biasa pesat terutama dimulai sejak tsunami dan gempa 2004-2005 yang lalu. Kebutuhan SIG yang akurat dan representatif sangat dibutuhkan oleh seluruh wilayah di Indonesia, secara khusus di daerah rawan bencana. Salah satu manfaatnya adalah informasi yang diperoleh dalam pengolahan data SIG akan sangat membantu daerah itu sendiri untuk melihat secara rutin dan mengevaluasi manfaat pembangunan, kependudukan, perencanaan, sistem peringatan dini bencana, pertanian, perikanan, dll. Presentasi yang memaparkan rancanangan portal GIS Kepulauan Nias secara lengkap dan dalam segmen detail ini sangat menarik karena untuk kali pertamanya disampaikan kepada masyarakat Nias dalam acara tersebut.

Kemampuan bahasa Inggris yang dimiliki para pendamping turis di salah satu wilayah di Nias Selatan diangkat oleh Rebecca Laiya dalam kesempatan ini. Para penerjemah di lokasi wisata Nias Selatan belajar Bahasa Inggris secara otodidak. Istimewanya adalah mereka tidak mengetahui baca tulis, tidak pernah sekolah dan hanya menguasai bahasa Ibunya sendiri yaitu Bahasa Nias dialek Selatan. Pendapat menarik banyak didiskusikan dalam pertemuan tersebut mengingat banyak penduduk berbahasa lokal, tidak dapat berbahasa Indonesia namun fasih berbahasa Inggris.

Dalam arahannya, Restu Jaya Duha menyampaikan undangan bagi para investor dan organisasi untuk berinventasi dan berkarya di seluruh Kepulauan Nias. Pemerintah dan seluruh masyarakat Kepulauan Nias siap menerima dan menyambut baik semua program-program yang telah diperkenalkan pada acara ini. Restu Jaya Duha juga mengharapkan dan meyakini bahwa kontribusi para investor dalam bidang pembangunan yang mereka tawarkan akan mampu memberikan dukungan positif secara ekonomi kepada masyarakat setempat.

Ruang diskusi yang diberikan dengan waktu yang luas membuat para pengunjung,  investor, dan seluruh tokoh yang hadir berbincang dengan santai dan menyampaikan upaya realistis yang dapat dilakukan dalam waktu tidak lama ini. Semua hadirin menyatakan kesediaannya mengambil bagian dan peran baik dalam pariwisata maupun dalam sektor pembangunan  infrastruktur dan sosial lainnya. Sejumlah komunitas juga bersedia untuk berkunjung ke Kepulauan Nias dalam waktu dekat.

Tidak tanggung-tanggung kesepakatan dan MOU untuk karya nyata pada penataan ruang Kepulauan Nias, pembangunan desa-desa di seluruh Kepulauan Nias serta pengembangan kelompok pengrajin Omo Nufo Sinasa berhasil dicapai pada hari tersebut. Bahkan, permintaan untuk melakukan event kuliner serupa telah disepakati juga sehingga promosi Nias dalam pendekatan yang berbeda ini tetap berlangsung dan berkesinambungan.

KULINER KUNO NIAS

Kuliner kuno khas Nias yang ditampilkan berbeda dengan tahun lalu dan kali ini mencakup dari seluruh wilayah Kepulauan Nias. Bahan segarnya masih tetap didatangkan  dari seluruh penjuru Nias. Menu yang disajikan berupa Fakhe Bulu Damo (Nasi Bungkus Daun Damo), FakheFOTO YUTRIE stempel Nifalögu (Nasi Panggang Gerabah), Babae (Sup Krim Kacang), Foi Nitunu (Ikan Pari Panggang), Nibinögö (Pepes Daging), Mugu Nigore (Bakwan Teri Segar), Doru Ba Guro Nigore (Sambal Goreng Terong & Udang), Löfö-Löfö / Löfö Sagu (Pizza Sagu Panggang). Tidak ketinggalan beberapa menu peranakan dihidangkan untuk para tamu penting tersebut berupa Kue Pia Matega Gulo Ano (Pia Mentega Gula Merah) dan Bawa Bubu Nigore  (Sambal Ebi Kering). Semua makanan yang disajikan diolah dari bahan lokal terpilih, organik, halal, tanpa penyedap rasa dan hampir seluruhnya dimasak dengan menggunakan alat masak tradisional Nias.

Sejumlah kuliner kuno harus dimasak dengan ritual dan sikap santun sehingga masakan berhasil matang dengan baik karena6 STEMPEL dalam kebudayaan asli di Telukdalam hidangan tersebut adalah hidangan kehormatan dan hanya diperuntukkan kepada raja dan keluarga intinya. Menu tersebut adalah Fakhe Nifalögu (Nasi Panggang Gerabah) dan Babae (Sup Krim Kacang).

Pada event ini Babae dimasak secara halal dan dikombinasikan dengan menggunakan resep sup krim yang lazim telah dikenal umum. Secara istimewa Fakhe Nifalögu ditampilkan pada acara ini yang dimasak dengan ciptaan kreatifitas Noniawati Telaumbanua yaitu beras merah masak santan. Beras merah dimasak spesial untuk dipersembahkan kepada pengunjung yang melakukan diet khusus sekaligus memperkenalkan inovasi keanekaragaman pemanfaatan bahan pangan lokal pada kuliner kuno Nias. Selain itu, menu spesial Foi Nitunu juga diperkenalkan di sini sebagai resep keluarga Noniawati secara turun-temurun, yang mana hampir seluruh pengunjung mengakui tidak pernah memakan ikan pari.

Ada juga nasi bungkus khas Nias yaitu nasi berbungkus daun pohon lokal yang dikenal sebagai bulu damo atau damo-damo. 7 STEMPELDaun ini akan membungkus nasi panas, menjaga untuk mempertahankan kesegaran makanan yang dibungkus hingga larut malam dan mengeluarkan aroma wangi yang khas. Makanan berbungkus daun ini sangat direkomendasikan secara turun-temurun bila seseorang melakukan perjalanan jauh atau bekerja di ladang sepanjang hari. Pengamat kuliner yang hadir sangat menyambut  baik  kuliner lokal yang satu ini sebagai sesuatu yang baru, spesial dan layak diperkenalkan kepada seluruh pencinta kuliner pada event selanjutnya.

ANYAMAN KUNO NIAS

Anyaman khas Nias yang dipamerkan sekali ini didatangkan dari sebuah desa di Kabupaten Nias Selatan. Dahulu pada kurun waktu 1860-1980 desa ini dikenal dengan ratusan motif anyaman dan mengirim produknya hingga ke Eropa.  Menurut Noniawati yang sebelumnya tinggal di Eropa, secara rutin mengajak anak dan keluarganya mengunjungi beberapa museum  yang menampilkan kemegahan peradaban Nias dan anyaman.  Anyaman-anyaman, dengan motif sangat rumit yang dahulu kala merupakan produk pekerjaan utama para perempuan Nias, bahkan dikoleksi secara pribadi oleh masyarakat Eropa yang pernah bertugas sebagai misionar di Nias atau pernah berkunjung ke sana.

10 gabungan

Tiga dekade setelah itu anyaman khas desa tersebut punah dan tidak pernah diingat kembali. Sampai suatu ketika disaat harga karet terpuruk, para perempuan di desa tersebut mengambil inisiatif untuk berkreasi bersama OMO NUFO SINASA.

EVENT DAN KAWULA MUDA NIAS

Event ini dipersembahkan oleh seluruh kawula muda yang tergabung di dalam komunitas yang melakukan gebrakan pemasaran Kepulauan Nias secara praktis, nyata dan berkesinambungan. Patut diapresiasi adalah pencapaian target Ono Niha Development & Heritage, melalui upaya memajukan pembangunan sekaligus sebagai tonggak pelestarian pengetahuan lokal Kepulauan Nias serta didukung oleh strategi pendekatan berani  tim pemasaran pada dua kali pelaksanaan event, telah berhasil maksimal. Bila pada tahun lalu, event ini berhasil menggugah sejumlah PMA, para guru besar, pemerhati asal Nias, media dan pakar kuliner terkait, maka pada tahun ini dukungan dari pihak yang sama masih tetap dan bahkan kerjasama konkrit dengan media dan organisasi /perusahaan PMA yang baru saja turut bergabung mendukung acara ini  pun berhasil disepakati dan dimulai tepat saat acara berlangsung.

Ono Niha Development & Heritage mengupayakan secara konkrit melakukan pendekatan pemasaran Kepulauan Nias dari sisi kuliner dan festival keahlian pengetahuan lokal yang disertai pertemuan dalam suasana family gathering untuk mencapai tujuan pembangunan melalui pengunjung. Hasilnya telah terbukti sangat efektif dalam dua kali perhelatan ini. (ON)

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather]]>
http://ono-niha.com/2015/04/babak-baru-satu-dekade-gempa-nias-28-maret-2005/feed/ 0
2nd Event of Succulent Tanö Niha http://ono-niha.com/2015/03/2nd-event-of-succulent-tano-niha/ http://ono-niha.com/2015/03/2nd-event-of-succulent-tano-niha/#comments Tue, 03 Mar 2015 20:39:04 +0000 http://ono-niha.com/?p=496 2nd Event_WEB FINALIngin mengenal Kepulauan Nias lebih dekat lagi? Ingin mengenal perkembangan pembangunan, sosial, budaya dan kuliner asli Kepulauan Nias ? Atau ingin mengenal berbagai produk unggulan dari Kepulauan Nias? Mari luangkan waktu mengunjungi acara yang untuk kali kedua dilaksanakan yakni “2nd Event of Succulent Tanö Niha” dengan tema “Kepulauan Nias – 10 Tahun Setelah Gempa Terdahsyat Maret 2005 (Nias Islands-10 Years After The Biggest Earthquake 2005, March 28)”. Sebagai informasi, acara pertama telah sukses dilaksanakan pada tahun 2014 yang lalu, silakan kunjungi tautan berikut di sini.

Bertepatan dengan hari mengenang bencana gempa Maret 2005 tersebut, maka generasi muda Ono Niha yang tergabung di dalam Komunitas Ono Niha Development & Heritage mengadakan acara presentasi dan pameran pembangunan dan kebudayaan Kepulauan Nias pada Sabtu, 28 Maret 2015 di Jakarta.

Selain presentasi mengenai Kepulauan Nias 10 Tahun Setelah Gempa Maret 2005, pengunjung disilakan untuk menikmati santap siang aneka kuliner kuno khas dari seluruh penjuru Nias dan sekaligus mengunjungi pameran berbagai produk unggulannya. Informasi acara Maret 2015 ini bisa diunduh pada tautan ini 2nd Event of Succulent Tano Niha .

Pendaftaran dan informasi lebih lanjut disilakan untuk menghubungi panitia melalui e-Mail: ono.niha2000@gmail.com.

(ON)

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather]]>
http://ono-niha.com/2015/03/2nd-event-of-succulent-tano-niha/feed/ 0
Möi Ba’ene Mamahö I’a: Kearifan Lokal Menjaga Keseimbangan Laut di Telukdalam, Nias Selatan http://ono-niha.com/2015/01/moi-baene-mamaho-ia-kearifan-lokal-menjaga-keseimbangan-laut-di-telukdalam-nias-selatan/ http://ono-niha.com/2015/01/moi-baene-mamaho-ia-kearifan-lokal-menjaga-keseimbangan-laut-di-telukdalam-nias-selatan/#comments Sat, 31 Jan 2015 14:54:17 +0000 http://ono-niha.com/?p=485 Oleh: Noniawati Telaumbanua

Petang hari di sekitar Kota Telukdalam pada musim tertentu para pria gagah melangkah mantap lengkap dengan perlengkapannya yang khas. Mereka terlihat berjalan sendiri-sendiri, menyusuri jalan utama dan kemudian hilang di belokan jalan setapak menuju arah pantai tersembunyi. Semakin rebah matahari, semakin banyak jumlah pria ini bergegas menghilang dibalik ruas setapak pantai.

Tidak banyak yang menyadari kegiatan rutin para lelaki dari desa-desa tradisional yang terletak berdekatan dengan pantai di Kota Telukdalam, Nias Selatan. Sepintas mereka terlihat seperti penduduk kebanyakan yang baru saja kembali dari berkebun. Ciri khasnya yang berjalan berlawanan arah dengan para petani yang pulang ke rumah tanpa hasil kebun, berjalan sendiri saat malam menjelang  dan dihiasi dengan perlengkapan khusus antara lain berupa tombak dan pisau/parang. Penampakan tersebut mengisyaratkan adanya tujuan lain dari perjalanannya.

Para lelaki ini hendak möi ba’ene mamahö/manalui  i’a atau möi ba dawa mamahö i’a, artinya hendak melakukan kegiatan menombak ikan. Kegiatan di atas adalah salah satu rutinitas tradisional yang masih ditemui di sana hingga kini, sekalipun keahlian unik itu hampir menuju kepunahan akibat budaya penangkapan ikan modern yang lebih dominan. Keahlian yang  terkesan sederhana namun sebenarnya sangat rumit karena menggunakan ketajaman panca indera, kesabaran, keahlian mengayuhkan tombak dan kemampuan menghitung musim. Bila tangkapan telah mencukupi maka para penombak tidak akan menunggu hingga tengah malam. Namun, tidak jarang mereka menanti tangkapannya hingga subuh menjelang.

Banyak yang memandang sepele kegiatan tersebut, namun pemahaman budaya lokal ternyata sarat akan kebijakan dan inisiatif untuk melindungi lingkungan laut dan habitat sekitarnya. Pada prakteknya, ikan yang ditombak hanyalah ikan yang dianggap telah pantas untuk ditombak dan dikonsumsi, lalu dipanen tidak lebih dari kebutuhan seisi rumah saja. Pun bila terdapat beberapa tangkapan yang besar akan dijual sekadarnya.  Para penombak memang membatasi dirinya dalam jumlah dan jenis ikan yang akan dipanen. Pemahaman untuk “menombak secukupnya” telah dianut sejak dahulu kala sebagai bentuk ketaatan mereka terutama dalam menjaga tersedianya jumlah ikan yang cukup untuk waktu selanjutnya dan bagi penombak lainnya. Kearifan lokal beserta keahlian yang terkandung dalam ritual möi ba’ene mamahö i’a diyakini bersama, bahwa tidak satu orang pun akan menolak memberi persetujuan untuk  mendukung upaya-upaya melestarikan dan mewarisinya pada generasi berikut.(ON)

 

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather]]>
http://ono-niha.com/2015/01/moi-baene-mamaho-ia-kearifan-lokal-menjaga-keseimbangan-laut-di-telukdalam-nias-selatan/feed/ 0
Omo Nufo Sinasa: Proyek Percontohan Pengembangan Keahlian dan Pengetahuan Lokal Desa http://ono-niha.com/2014/12/omo-nufo-sinasa-proyek-percontohan-pengembangan-keahlian-dan-pengetahuan-lokal-desa/ http://ono-niha.com/2014/12/omo-nufo-sinasa-proyek-percontohan-pengembangan-keahlian-dan-pengetahuan-lokal-desa/#comments Wed, 10 Dec 2014 02:38:53 +0000 http://ono-niha.com/?p=449 Oleh: Noniawati Telaumbanua

Semenjak awal tahun 2012 komunitas Nias Development & Heritage menggalang penyebaran motivasi pengembangan berbagai keahlian/pengetahuan lokal para perempuan di desa-desa di Kepulauan Nias. Proyek ini pada kenyataannya tidak serta-merta disambut antusias oleh para perempuan di desa-desa yang tersebar di berbagai kelompok. Tantangan utama adalah ketidakkonsistenan metode kerja dan penerapan standar tinggi kualitas produk yang belum mampu dicapai sepenuhnya oleh masyarakat desa di Nias. Hal tersebut berakibat langsung menggerus kemampuan pemasaran setiap produk yang diupayakan. Sementara peluang produk lokal mereka untuk bersaing dengan pasar global sangat menjanjikan dan bersifat masterpiece.

 

Akan tetapi, pada Maret 2014 upaya ini pada akhirnya bak gayung bersambut ketika seorang perempuan paruh baya, berasal dari sebuah desa di Kabupaten Nias Selatan, datang hendak berkenalan dan menyampaikan tanpa basa-basi bahwa dia perlu melakukan sesuatu karena  tidak lagi memiliki uang dan pemasukan, harga karet tinggal Rp6000 per kilo dan dia memerlukan bantuan segera.

Perkenalan ini membuahkan harapan ketika sang perempuan tersebut menjelaskan apa saja kemampuan dan keahliannya selain menderes karet. Dia berjanji juga untuk mengajak semua perempuan yang dia kenal yang memiliki berbagai keahlian yang puluhan tahun telah terkubur tanpa harapan untuk diwujudkan secara kontinyu. Semenjak hari itu proyek percontohan pengembangan keahlian lokal desa yang dipelopori oleh para perempuan desa ini dimulai. Seluruh perempuan di desa-desa yang masih memiliki keahlian lokal diajak dan dimotivasi untuk memanfaatkan keahliannya tersebut sehingga menghasilkan produk yang bermanfaat dan bernilai jual tinggi. Tanpa terduga sekalipun, animo dan harapan perempuan di desa-desa lainnya hidup kembali.

Inisiatif dengan membentuk kelompok kerja Omo Nufo Sinasa ini didapuk sebagai Proyek Percontohan Pengembangan Keahlian dan Pengetahuan Lokal Desa di Nias (House of Woven Mats : Village Local Skill & Knowledge’s Development Project in Nias Islands). Langkah pertama dimulai dengan menggiatkan kembali keahlian menganyam. Produk anyaman dalam keseharian masyarakat Ono Niha sudah menjadi bagian budaya mutlak, mulai dari nilai fungsi hingga makna simbol pengagungan. Bahannya antara lain adalah pandan.

Sesuatu harus dilakukan segera, sesuai dengan harapan perempuan yang datang bertamu pada Maret 2014 itu.

Taplak Meja 11

Gbr. 1 & 2 Aneka Produk Anyaman Khas dari Telukdalam Taplak Meja dan Alas makan

Dengan target per bulan, kelompok binaan ini bekerja dengan cepat untuk membuat semua masterpiece anyaman yang pernah mereka produksi untuk keperluan ekspor ke Eropa di masa lampau. Dengan target demikian, para perempuan yang tergabung dalam Omo Nufo Sinasa tidak ketinggalan pula merintis membuat sejumlah produk yang sedang trend dan menjadi kebutuhan masa terkini. Produk yang diberi merek Sara Rai F.Duha by Omo Nufo Sinasa harus melalui quality control yang sangat tinggi dan menggunakan 90% bahan alamiah dan sepenuhnya adalah buatan tangan (pure handmade). Kombinasi aneka bahan tekstil dan kulit asli khas Indonesia tidak ketinggalan untuk dimanfaatkan sesuai dengan permintaan pemesan.866

Gbr. 3 & 4 Aneka Produk Anyaman Khas dari Telukdalam Clutch/Tas Pesta dan Tas Laptop

67a7145a

Gbr. 4, 5 & 6 Aneka Produk Anyaman Khas dari Telukdalam Tas Laptop, Tempat Sirih/Modifikasi Tas Pesta/Tas Gadget dan Wadah Multifungsi

Keahlian serta pengetahuan lokal desa yang dipastikan murni buatan tangan yang bersumber dari falsafah kehidupan dan kebijakan budayanya (local wisdom) pasti tidak akan ada tiruannya. Warisan ini terlihat pada keahlian perempuan lokal di Kepulauan Nias. Every product is authentic and the only one, it tells us its own story.

Omo Nufo Sinasa

Alamat/Address:

Jl. Saonigeho Km. 3, Telukdalam 22865-Kabupaten Nias Selatan (Regency South Nias), Sumatera Utara/North Sumatera-Indonesia

Toko Sararaholi, Jl. Sirao No. 20, Gunungsitoli 22813, City Gunungsitoli,  North Sumatera-Indonesia

e-Mail: ono.niha2000@gmail.com

 

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather]]>
http://ono-niha.com/2014/12/omo-nufo-sinasa-proyek-percontohan-pengembangan-keahlian-dan-pengetahuan-lokal-desa/feed/ 2
Memacu Pemasaran Produk Lokal & Siap Berjaya Kembali Untuk Go Internasional http://ono-niha.com/2014/10/memacu-pemasaran-produk-lokal-siap-berjaya-kembali-untuk-go-internasional/ http://ono-niha.com/2014/10/memacu-pemasaran-produk-lokal-siap-berjaya-kembali-untuk-go-internasional/#comments Fri, 17 Oct 2014 03:03:20 +0000 http://ono-niha.com/?p=436 Penulis: Noniawati Telaumbanua, 2014

Seperti diketahui dari pemberitaan-pemberitaan pada tulisan bersejarah tentang Nias yang kini dapat dibaca di perpustakaan museum-museum di Eropa, dahulu dalam kurun waktu 1800-1980 aneka produk lokal dari Kepulauan Nias berjaya, mendunia dan diminati oleh banyak kalangan baik perseorangan maupun organisasi. Berbagai produk lokal tersebut dijadikan sebagai komoditas perdagangan hingga ke luar negeri atau pun hanya sebagai kesenangan kolektor saja. Selain hasil bumi berupa perdagangan kopra, karet, ternak babi, hasil laut, pisang dan umbi-umbian, juga sejumlah hasil karya seni berupa ornamen berbahan kayu, batu dan emas adalah favorit pasar dan paling diminati. Tidak ketinggalan pula ekspor berbagai kreasi anyaman unik namun aplikatif bermotif antik. Bahkan, juga hasil tenunan yang kini telah punah karena keahlian ini terhentikan oleh berbagai sebab tanpa dapat diwariskan kembali ke generasi selanjutnya.

Memasuki tahun 1980, gaung komoditas ekspor tidak lagi terdengar bahkan semakin tertantang dan tersingkir oleh persaingan ketat dengan produk dari daerah lain. Hingga kini, komoditas lokal yang masih bertahan secara kontinyu dari segmen hasil bumi adalah pisang, karet dan produk kelautan, dan dari segmen seni kriya hanya berupa ornamen berbahan kayu namun jumlah dan nilai artistiknya belum memberikan kabar menggembirakan.  

rai balaki

 Gbr. 1 Salah satu perhiasan kepala perempuan diproduksi pada masa lampau

Kondisi pasar yang terjadi selanjutnya lebih sering tidak menjanjikan bagi masyarakat sebagai pelaku ekonomi (pengrajin dan petani) karena harga tidak bersaing dan posisi tawar dari produk lokal tersebut sangat lemah, sekali pun kuotanya sudah cukup memadai. Sebut saja harga getah karet yang lebih sering tertekan dan terpuruk bahkan cenderung tidak bisa bereaksi positif dibanding tetap tingginya permintaan produk berbahan baku getah karet di pasar dunia. Beberapa petani untuk sementara waktu “terselamatkan” oleh karena musim buahan tahunan yang membludak seperti durian, kuini, mangga, langsat, manggis dan duku. Itu terjadi hanya antara Juni-September. Perlu dicatat bahwa akhir tahun di Kepulauan Nias sudah memasuki musim penghujan bahkan bisa saja terjadi hingga bulan Februari. Panen getah karet akan sulit dilakukan oleh penderes tradisional dalam masa penghujan.

NTbanua

Foto: NTbanua, 2014

Gbr. 2 Anyaman tikar diekspor hingga ke Jerman antara tahun 1900-1980

Implikasinya adalah pendapatan petani lokal tetap rendah dan mereka dituntut lebih keras lagi untuk mengusahakan alternatif  bertani bila salah satu lahannya sedang tidak dalam masa panen yang kondusif atau telah berlalu masa panennya. Pola bertani menjadi terbentuk demikian setiap tahunnya sehingga konsistensi kerja dan produksi termasuk di dalamnya kualitas produk tidak dikenal di sini. Kecenderungan bekerja dapat digambarkan sebagai “apa yang saat ini dapat dipanen, itu yang saat ini dikerjakan segera dalam jumlah sebanyak-banyaknya semampu dikerjakan”. Sehingga tidak heran bila petani pada akhirnya mengucapkan kalimat berikut “awai ndrohu-ndrohu”, yang maknanya pasrah (karena) telah mengupayakan segala sesuatunya.

Demi mendorong percepatan berkibarnya kembali produk lokal, beberapa upaya dilakukan berupa:

  1. Menginventarisir ulang kuantitas dan kualitas produk unggulan dan memberinya peran sebagai bagian dalam kehidupan/kebutuhan sehari-hari masyarakat,
  2. Melakukan studi dan kajian atas produk lokal dari hulu ke hilir secara berkala,
  3. Mempersiapkan masyarakat melalui kampanye dan penyuluhan yang dilakukan secara marathon, dalam hal ini penulis menyarankan dimulai sedari dini pada kelompok pendidikan sekolah dasar,
  4. Melakukan pendekatan kepada para pewaris keahlian seni untuk bersedia turun gunung, berproduksi kembali dan melakukan transfer pengetahun dan teknologi kepada generasi penerusnya,
  5. Memulai kembali untuk produksi hal-hal kecil yang sederhana namun diminati pasar,
  6. Memberdayakan kelompok kerja khususnya perempuan dan tuna karya,
  7. Pendanaan semua proses produksi harus dimulai dari volume paling realistis untuk dituntaskan oleh pengrajin. Produk high-end seperti ornamen berbahan kayu, batu dan emas membutuhkan banyak sumberdaya yang harus dipersiapkan secara matang namun sebenarnya merupakan ikon kemegahan kekhasan budaya Nias itu sendiri,
  8. Promosi produk pangan lokal secara rutin di berbagai kota besar sekaligus mempresentasikan hasil olahannya dalam kuliner khas asli dari Kepulauan Nias,
  9. Membangun jaringan pemasaran dari mulut ke mulut dan pertemanan serta mengarahkan pengunjung kota ke sentra-sentra produksi,
  10. Secara berkelanjutan membina dan mengembangkan pengetahuan petani dan pengrajin untuk meningkatkan kualitas produksinya, dan
  11. Menyesuaikan produksi dengan permintaan pasar dan trend.

Peranan pelaku ekonomi, sumber pendanaan dan pengambil keputusan dari hulu ke hilir menentukan bergaungnya kembali produksi lokal. Sumber pendanaan didapat dari perbankan, koperasi, pribadi perorangan, organisasi kemasyarakatan atau non-pemerintah dan instasi pemerintah. Pengambil keputusan di sini adalah semua yang berperan dan terkait pada tahapan pada produk yang akan dipasarkan.  Pada prakteknya, hanyalah upaya keras pelaku ekonomi yang siap bersaing yang akan mampu menggaet perhatian dan dukungan dari pengambil keputusan dan pendukungan pendanaan. Etos pelaku ekonomi yang terus mengembangkan diri dan usahanya ini yang mampu bertahan dan mengenalkan diri sebagai pelaku yang konsisten. Semestinya target ini dapat dicapai dalam waktu singkat karena perdagangan bebas telah di depan mata, atau seseorang dari luar negeri tiba-tiba tanpa terduga memperdagangkannya di Nias. Belajar dari strategi desa-desa di Jerman, tidak ada pasar yang abadi akan tetapi demi mempertahankan eksistensi produk lokalnya, masyarakat setempat mempertahankan dan melestarikan pasarnya dengan menjadikan produk lokalnya sebagai bagian dari kebutuhan keseharian. (ON)

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather]]>
http://ono-niha.com/2014/10/memacu-pemasaran-produk-lokal-siap-berjaya-kembali-untuk-go-internasional/feed/ 0
Kursus Membuat Anyaman Tikar Khas Desa Bawödobara di Kabupaten Nias Selatan http://ono-niha.com/2014/09/kursus-membuat-anyaman-tikar-khas-desa-bawodobara-nias-selatan/ http://ono-niha.com/2014/09/kursus-membuat-anyaman-tikar-khas-desa-bawodobara-nias-selatan/#comments Mon, 29 Sep 2014 12:41:19 +0000 http://ono-niha.com/?p=410 Anyaman tikar merupakan seni kerajinan tangan yang telah dikuasai oleh Suku Ono Niha turun-temurun. Pada masa lampau di masing-masing wilayah kerajaan di Nias, tikar memiliki kekhasannya, beragam bentuk dan beragam fungsi pula. Sebelumnya website ini telah memperkenalkan anyaman sinasa (baca artikel di sini) yang sudah mulai jarang ditemui dan hampir punah karena tiadanya regenerasi pengrajin.

Untuk mempercepat pelestarian seni anyaman tersebut, maka telah dibuka kelas belajar menganyam tikar di Kota Telukdalam. Dalam kursus ini akan diajarkan membuat anyaman tikar khas Desa Bawödobara, yang dahulu adalah wilayah Öri To’ene’asi dan sekarang berada di Kecamatan Toma, Kab. Nias Selatan. Pelatihnya diundang secara khusus yaitu pakar anyaman tikar yang tinggal beberapa orang saja dari desa tersebut.

Peserta akan diajarkan pelajaran dasar yaitu mengenal anyaman, bentuknya, bahan baku dan praktek langsung dengan bantuan bahan daun pisang. Setelah mahir, peserta diajarkan menganyam dengan bahan baku lokal. Beberapa contoh tahapan dalam belajar membuat anyaman tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tahapan dasar mengayam

2. Tahapan dasar lanjutan menganyam

3. Salah satu materi pelajaran yakni mengenal bahan baku, seperti bahan dari batang pisang sebagai bahan baku berwarna alami

3_stempel

4. Motif ni’otarawa adalah teknik menggabungkan dua anyaman zig-zag.

4@

Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi di ono.niha2000@gmail.com dengan subject “Kursus Anyaman Tikar”.

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather]]>
http://ono-niha.com/2014/09/kursus-membuat-anyaman-tikar-khas-desa-bawodobara-nias-selatan/feed/ 2
Inisiatif dan Kreatifitas Pendampingan Proses Mendidik Anak (Bagian IV) http://ono-niha.com/2014/08/inisiatif-dan-kreatifitas-pendampingan-proses-mendidik-anak-bagian-iv/ http://ono-niha.com/2014/08/inisiatif-dan-kreatifitas-pendampingan-proses-mendidik-anak-bagian-iv/#comments Wed, 27 Aug 2014 13:57:05 +0000 http://ono-niha.com/?p=394 Setelah artikel Bagian I, Bagian II dan Bagian III memberikan gambaran pengalaman berbagai kelompok masyarakat, maka artikel berikut memberikan kepada pembaca sebuah pengalaman para pendidik hebat yang terbeban untuk membangun sumber daya manusia di tempat mereka mengajar.  (Penulis: Noniawati Telaumbanua)kinderuni_at

Tidak banyak pemerintah kota yang membina kerjasama dengan para guru besar untuk bereksperimen dalam sebuah perhelatan berupa kegiatan melayani anak-anak usia sekolah layaknya seorang dewasa. Kota berikut ini berhasil menerapkan inisiatif di luar kebiasaan tersebut dan menjadikan event Kinderuni sebagai trademark gemilang untuk memenangkan perhatian orangtua terhadap pendidikan anak-anaknya.

Antusiasme Anak bersama Universitas dan Biro Anak di Wina, Austria

Di Wina, Austria setiap tahunnya pada musim liburan sekolah, Universitas Wina melalui Kantor Bidang Anak mengadakan event Kinderuni (Kinderuniversität) atau anak-anak universitas (mahasiswa cilik) dengan mengundang seluruh anak umur 7-12 tahun untuk mengisi liburannya dalam program pendidikan singkat di universitas, yang dipusatkan di Universitas Wina, Austria. Pendukung event ini setiap tahunnya seperti berlomba-lomba untuk turut ambil bagian karena secara tidak langsung menjadi jembatan pertemuan aspirasi bagi masyarakat, pemerintah dan lembaga pendidikan.

Tawaran kegiatan yang dilakukan di sini beragam dan sangat terukur sehingga setiap anak merasa berkepentingan untuk turut berpartisipasi lagi dalam acara yang sama di tahun mendatang. Pada saat mendaftar atau Anmeldung, anak diberi kebebasan untuk memilih dan mengikuti program perkuliahan yang dia inginkan. Semua bidang studi terbuka untuk diikuti pada event ini.

Para profesor akan menyelenggarakan beberapa “mata kuliah” wajib spektakuler yang disampaikan dalam bahasa yang dimengerti oleh anak-anak dan awam. Tidak tanggung-tanggung, selain presentasi di power point perkuliahan akan melibatkan banyak sekali fasilitas wahana visualisasi dan praktis dalam berbagai dimensi. Jangan heran, para orang tua pun pasti akan “tergila-gila” untuk mengikuti perkuliahan istimewa tersebut. Dalam sekali perkuliahan singkat ini, ada banyak sekali ilmu yang diserap dengan cepat, di mana bila pada kelas regulernya hanya diperoleh dalam satu tahun perkuliahan, misalnya.

Ruang tanya jawab juga terbuka luas, demikian dengan praktek laboratorium hingga ajang praktek menyusun konstelasi, pemrograman atau karya tulis. Persyaratan “ujian” untuk mendapatkan nilai juga akan dilaksanakan layaknya perkuliahan sebenarnya.  Seluruh fasilitas universitas juga terbuka pada saat itu untuk dikunjungi, ada ajang perdebatan layaknya di senat mahasiswa, kompetisi ilmiah dan pidato, seminar-seminar yang diorganisir oleh “mahasiswa cilik” dan tentu saja ada banyak fasilitas kreatifitas menarik untuk anak, arena permainan mendidik, disertai arena pusat jajan dan snack gratis dari sponsor.

Waktu yang singkat tidak memungkinkan bagi anak untuk mengikuti semua tawaran perkuliahan, sehingga pada kedatangannya tahun mendatang anak telah merancang sendiri “perkuliahan lainnya” secara mandiri. Anak akan memimpikan bahwa masa liburannya tiap tahun diisi dengan “menandai kolom kehadiran jam perkuliahan” pada perhelatan yang sama dan pasti sangat berharap impiannya menjadi kenyataan kelak sebagai mahasiswa pula.

Peserta Kinderuniversität ini tetaplah masih kanak-kanak. Mereka hampir seluruhnya memiliki kesamaan, yaitu setelah mengikuti berbagai kegiatan yang padat jadwal, maka wahana melukis dan wahana kreasi permainan pasti diserbu dan ditutup dengan jajan makanan ringan.

 

Prinsip menarik yang dikenal penulis selama mengikuti program pendidikan anak di beberapa sekolah di Eropa adalah, semakin banyak beban materi pelajaran diberikan dan juga dicapai oleh seorang anak, maka semakin banyak pula wahana kreatifitas disodorkan pada anak tersebut, terutama menggambar dan kerajinan tangan. Semakin sulitnya anak menyerap materi pelajaran, maka saatnya guru dan orang tua bekerja lebih telaten lagi untuk menggali kemampuan dan keahlian anak untuk segera diarahkan kepada minat dan bakatnya masing-masing. (ON)

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather]]>
http://ono-niha.com/2014/08/inisiatif-dan-kreatifitas-pendampingan-proses-mendidik-anak-bagian-iv/feed/ 0
Inisiatif dan Kreatifitas Pendampingan Proses Mendidik Anak (Bagian III) http://ono-niha.com/2014/08/inisiatif-dan-kreatifitas-pendampingan-proses-mendidik-anak-bagian-iii/ http://ono-niha.com/2014/08/inisiatif-dan-kreatifitas-pendampingan-proses-mendidik-anak-bagian-iii/#comments Wed, 27 Aug 2014 10:18:17 +0000 http://ono-niha.com/?p=386 Selanjutnya setelah artikel Bagian I dan Bagian II menjelaskan beberapa proses mendidik anak yang telah dilakoni beberapa masyarakat dari kelompok yang berbeda, maka contoh berikut ini memberikan beberapa pencerahan yang dipetik dari pengalaman di beberapa kota di Eropa.  Ada banyak nilai positif yang sederhana yang diwujudkan oleh para orangtua bersama lembaga yang ada di kota mereka dan memungkinkan juga diterapkan hingga di desa-desa di Indonesia. (Penulis: Noniawati Telaumbanua)

Partisipasi Warga, Pemerintah Kota dan Swasta di Jerman

Seluruh pemerintah kota di Jerman mencanangkan dan menawarkan program pendidikan tambahan untuk segala umur. Program ini juga dibuat dengan memperhatikan kebutuhan khusus warganya, seperti lansia, warga pengangguran, anak berkebutuhan khusus, dlsb. Program ini terwujudkan atas kerjasama antardinas di lingkungan pemerintah kota. Pada beberapa program, pihak masyarakat dan swasta mengambil bagian sumbangsih terbesar dan sudah merupakan event kebanggaan kota. Kota-kota tersebut kelak dikenal oleh programnya, yang menjadi “trademark” mendunia.

Sebuah lembaga yang menangani program pendidikan tambahan untuk segala umur disebut Volkshochschule (VHS). Setiap tahunnya lembaga ini menawarkan program dan pembinaan menarik baik yang gratis maupun yang berbayar namun sangat murah. Program pada kategori anak terdapat hampir setiap minggu atau bulannya. Pusat pelayanan pendidikan anak di bawah tiga tahun dan TK, baik milik pemerintah maupun milik swasta umumnya berbayar. Kecuali, khusus untuk anak batita, bila ibu-ibu membentuk tim di lingkungannya masing-masing dan berbagi tugas.

Ide lain yang memberikan ruang dan waktu bagi keluarga untuk berkumpul bersama adalah kegiatan pertemuan masyarakat dan pemerintah kota secara rutin dalam perhelatan setiap empat atau enam bulan yang berkaitan dengan pendidikan anak dan keluarga. Perhelatan ini seperti festival budaya (dimana berbagai keunikan suku bangsa dan budaya diperkenalkan di sini), pameran pembangunan kota, pameran di berbagai museum.

Kegiatan lainnya adalah festival musim panas, dimana pemerintah kota bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mengadakan aneka aktivitas yang ditujukan khusus untuk anak dan keluarga selama liburan musim panas. Di festival ini, aneka permainan tradisional maupun modern dari penjuru dunia diperkenalkan, sejumlah besar festival musik, arena dunia dongeng anak yang dikisahkan secara lisan dan juga melalui pagelaran panggung boneka/wayang, tidak ketinggalan juga berbagai stand yang disediakan sebagai wahana memperkenalkan kepada anak dan keluarga aneka profesi pekerjaan dan pendidikan, tentu saja sejumlah pesta kuliner dari berbagai budaya dapat dinikmati selama festival berlangsung.Sport Familien Musicspielen Familien

Sumber foto: http://www.ka-news.de/das-fest-karlsruhe.bilder/

Pada musim dingin, dikenal juga Weihnachtsmarkt/Pasar Natal, di mana semua kegiatan budaya dan sosial yang berkaitan dengan perayaan Natal dan musim dingin dipresentasikan dan dipasarkan di sini selama Minggu Advent. Pasar ini dapat dikunjungi pada sore hingga malam hari. Selain festival musik dan paduan suara, beberapa fasilitas yang memiliki nilai pendidikan untuk diikuti oleh anak-anak selama Pasar Natal berlangsung adalah berupa festival tari-tarian mancanegara, wahana dongeng, festival kuliner, festival produksi pangan organik lokal, pameran kerajinan tangan produksi daerah sendiri dan UKM berbagai negara yang bekerjasama dengan kota tersebut, wahana ice skating, wahana kebun binatang mini, festival Sinterklas dan sebagainya.

Festival Pasar Natal telah menjadi trademark semua kota-kota bukan hanya di Jerman melainkan juga di Eropa, di mana setiap kota berupaya memasarkan kegiatannya pada bulan Desember setiap tahunnya dan berkompetisi dengan kota-kota lainnya untuk merebut perhatian pengunjung, sehingga setiap tahun akan ada prestise tersendiri ketika banyak media massa memberitakan perhelatan akhir tahun tersebut.

weihnachtsmarkt-am-koelner-dom-br-weihnachtsmarkt-am-koelner-dom-mit-beeindruckender-kulisse-eeFestival Pasar Natal Kota Köln

Kegiatan festival di kota-kota tersebut merupakan dukungan kerjasama pemerintah kota, kantor pemasaran kota, masyarakat setempat dan berbagai perusahaan sponsor serta usaha kecil menengah dari berbagai negara yang telah diakui oleh kota tersebut. (Bersambung)

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather]]>
http://ono-niha.com/2014/08/inisiatif-dan-kreatifitas-pendampingan-proses-mendidik-anak-bagian-iii/feed/ 2