Ketika Polimer Semakin Beken dan Pintar Beradaptasi

Fakhe NifaloguKeributan sepekan telah menyita perhatian seluruh kelompok masyarakat tentang perdebatan polimer yang dilaporkan telah hadir dalam wujud pangan paling dasar di negara kita yaitu berupa beras plastik. Peranan plastik masih relatif baru dalam kebutuhan hidup manusia modern, namun pemasarannya sangat luar biasa ketika senyawa ini kemudian dikembangkan, dikombinasikan dan diproduksi sebagai alat bantu rumah tangga. (Oleh: Noniawati Telaumbanua)

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI: ANTARA GIGITAN LEGIT DAN KEKUATAN MASSA ON-LINE

Dalam penjelasan resmi setelah melalui uji beberapa labor, disimpulkan bahwa beras plastik seperti yang diisukan tersebut ternyata tidak benar. Selanjutnya dijelaskan bahwa secara teknologi pembuatan bulir beras sangatlah rumit serta tidak mungkin. Teknologi untuk beras plastik pastilah amat sangat mahal dan pasti jauh lebih mahal dari harga beras asli.

Namun, masyarakat kadung tersengat oleh gigitan serangga TI yang hanya sepersekian detik menyebar dan menjalar ke sekujur organ-organ inti sosial masyarakat hingga ke pedalaman. Ketajaman gigitan serangga TI ini tidak perlu lagi diragukan bahwa efeknya tidak terhenti pada isu beras plastik saja di kemudian hari.

Dalam pengamatan sejak tahun 2008, kemampuan penyebaran TI di Indonesia khususnya pada daerah-daerah terluar dan terpencil masih sangat mustahil bahkan hanya untuk on line sesaat saja sangat menguras energi dan waktu. Bayangkan bahwa untuk sebuah jaringan yang bagus dalam waktu lima menit saja, sebaiknya on line antara pkl. 02.00-03.00 WIB. Itu pun bila listrik tidak padam. Sekarang di tahun 2015, perkembangan TI dan perangkatnya sudah sangat mutakhir. Akses bisa diperoleh pada segala kesempatan dan oleh batita sekalipun.

Janganlah heran bila isu seperti beras plastik yang menyangkut makanan pokok masyarakat Indonesia terekspos ke mana-mana tanpa bisa dibendung. Massa yang on line telah membentuk masyarakat global yang berbincang-bincang dalam waktu dan ruang yang tidak terbatas. Menggosip telah naik pamornya, dari yang dahulunya hanya dilakukan dengan berbisik-bisik di balik dinding kamar, sekarang dibalik sebuah sentuhan jari saja. Gosip telah mengglobal.

PLASTIK TELAH MERAMBAH HINGGA KE RANTAI MAKANAN

Bila masyarakat jeli, semestinya tidak perlu terlalu terpancing mengkritisi beras plastik namun seakan luput memperhatikan panutan sehari-hari dalam memanfaatkan aneka fasilitas berbahan polimer ini. Jauh sebelumnya, masyarakat telah diingatkan akan perlunya perhatian serius bila memanfaatkan plastik dan derivatnya. Beberapa kilas balik yang mungkin bisa menghantarkan ingatan pada beberapa pola hidup sehari-hari berupa:

  1. Pemanfaatan aneka produksi melamin yang tidak sesuai peruntukannya;
  2. Makanan panas ditempatkan dalam wadah kantong atau bungkusan berbahan plastik;
  3. Saat menggoreng penganan ringan, beberapa orang telah lumrah memasukkan minyak goreng bersamaan dengan kemasannya karena anggapan gorengan akan lebih renyah;
  4. Saat melakukan perebusan jeroan (contohnya otak anak sapi/anak babi pada makanan khas daerah) atau daging yang dikhususkan sudah tidak lagi berbungkus daun pisang atau kain katun, melainkan dengan bungkusan plastik;
  5. Memasak lontong nasi bukan lagi dalam kantong ketupat alamiah melainkan di dalam kantong plastik;
  6. Kegemaran memanfaatkan aneka bahan plastik sebagai wadah apa pun pada segala kesempatan;

Contoh di atas barulah sebagian saja dan ini telah menjadi bagian pola hidup sehari-hari. Tidak ada lagi kesempatan bagi masyarakat untuk tidak menggunakan bahan plastik bila berhubungan dengan apa pun yang dikonsumsinya setiap hari. Bila wadah yang dipergunakan tidaklah tepat bahannya, seperti makanan panas hanya diperkenankan pada wadah yang tepat, yang petunjuk pemakaiannya bisa dilihat pada permukaan wadah, maka polimer akan bereaksi atau meleleh dan makanan sudah pasti terkontaminasi. Selain itu, ada jenis plastik yang tidak boleh dimanfaatkan sebagai wadah makanan panas. Plastik pun tidak boleh dimasak bersama dengan makanan atau sup atau gorengan.

Polimer telah masuk ke rantai makanan kita. Dalam hal apa masyarakat masih meributkan beras plastik, namun berpuluh tahun telah melakoni aneka polimerisasi ke dalam makanannya setiap harinya?

 

PENUTUP

Hal paling inti dan tercepat saat ini yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi mengguritanya peleburan polimer ke dalam pangan adalah dengan berhati-hati memanfaatkan aneka produk plastik, manfaatkan sebijaksana mungkin. Wadah alamiah masih banyak tersedia di alam. Produk ramah lingkungan dan ramah makanan sudah banyak diproduksi.

Artikel Beras PlastikFoto: Sebuah warung  lontong nasi dan pusat jajanan gorengan yang aman konsumsi di  Jalan Setiabudi, Medan

Masyarakat juga sudah waktunya membutuhkan “vaksin TI” berupa informasi yang benar dan tepat untuk memberikan pemahaman menyehatkan, menangkal segala isu yang meresahkan dan bukan sekedar berita kosong.

Masyarakat pintar TI juga harus didukung oleh gencarnya propaganda pangan sehat. (Silent Time, 29/05/2015)

 

 

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>