Möi Ba’ene Mamahö I’a: Kearifan Lokal Menjaga Keseimbangan Laut di Telukdalam, Nias Selatan

Oleh: Noniawati Telaumbanua

Petang hari di sekitar Kota Telukdalam pada musim tertentu para pria gagah melangkah mantap lengkap dengan perlengkapannya yang khas. Mereka terlihat berjalan sendiri-sendiri, menyusuri jalan utama dan kemudian hilang di belokan jalan setapak menuju arah pantai tersembunyi. Semakin rebah matahari, semakin banyak jumlah pria ini bergegas menghilang dibalik ruas setapak pantai.

Tidak banyak yang menyadari kegiatan rutin para lelaki dari desa-desa tradisional yang terletak berdekatan dengan pantai di Kota Telukdalam, Nias Selatan. Sepintas mereka terlihat seperti penduduk kebanyakan yang baru saja kembali dari berkebun. Ciri khasnya yang berjalan berlawanan arah dengan para petani yang pulang ke rumah tanpa hasil kebun, berjalan sendiri saat malam menjelang  dan dihiasi dengan perlengkapan khusus antara lain berupa tombak dan pisau/parang. Penampakan tersebut mengisyaratkan adanya tujuan lain dari perjalanannya.

Para lelaki ini hendak möi ba’ene mamahö/manalui  i’a atau möi ba dawa mamahö i’a, artinya hendak melakukan kegiatan menombak ikan. Kegiatan di atas adalah salah satu rutinitas tradisional yang masih ditemui di sana hingga kini, sekalipun keahlian unik itu hampir menuju kepunahan akibat budaya penangkapan ikan modern yang lebih dominan. Keahlian yang  terkesan sederhana namun sebenarnya sangat rumit karena menggunakan ketajaman panca indera, kesabaran, keahlian mengayuhkan tombak dan kemampuan menghitung musim. Bila tangkapan telah mencukupi maka para penombak tidak akan menunggu hingga tengah malam. Namun, tidak jarang mereka menanti tangkapannya hingga subuh menjelang.

Banyak yang memandang sepele kegiatan tersebut, namun pemahaman budaya lokal ternyata sarat akan kebijakan dan inisiatif untuk melindungi lingkungan laut dan habitat sekitarnya. Pada prakteknya, ikan yang ditombak hanyalah ikan yang dianggap telah pantas untuk ditombak dan dikonsumsi, lalu dipanen tidak lebih dari kebutuhan seisi rumah saja. Pun bila terdapat beberapa tangkapan yang besar akan dijual sekadarnya.  Para penombak memang membatasi dirinya dalam jumlah dan jenis ikan yang akan dipanen. Pemahaman untuk “menombak secukupnya” telah dianut sejak dahulu kala sebagai bentuk ketaatan mereka terutama dalam menjaga tersedianya jumlah ikan yang cukup untuk waktu selanjutnya dan bagi penombak lainnya. Kearifan lokal beserta keahlian yang terkandung dalam ritual möi ba’ene mamahö i’a diyakini bersama, bahwa tidak satu orang pun akan menolak memberi persetujuan untuk  mendukung upaya-upaya melestarikan dan mewarisinya pada generasi berikut.(ON)

 

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>