Memacu Pemasaran Produk Lokal & Siap Berjaya Kembali Untuk Go Internasional

Penulis: Noniawati Telaumbanua, 2014

Seperti diketahui dari pemberitaan-pemberitaan pada tulisan bersejarah tentang Nias yang kini dapat dibaca di perpustakaan museum-museum di Eropa, dahulu dalam kurun waktu 1800-1980 aneka produk lokal dari Kepulauan Nias berjaya, mendunia dan diminati oleh banyak kalangan baik perseorangan maupun organisasi. Berbagai produk lokal tersebut dijadikan sebagai komoditas perdagangan hingga ke luar negeri atau pun hanya sebagai kesenangan kolektor saja. Selain hasil bumi berupa perdagangan kopra, karet, ternak babi, hasil laut, pisang dan umbi-umbian, juga sejumlah hasil karya seni berupa ornamen berbahan kayu, batu dan emas adalah favorit pasar dan paling diminati. Tidak ketinggalan pula ekspor berbagai kreasi anyaman unik namun aplikatif bermotif antik. Bahkan, juga hasil tenunan yang kini telah punah karena keahlian ini terhentikan oleh berbagai sebab tanpa dapat diwariskan kembali ke generasi selanjutnya.

Memasuki tahun 1980, gaung komoditas ekspor tidak lagi terdengar bahkan semakin tertantang dan tersingkir oleh persaingan ketat dengan produk dari daerah lain. Hingga kini, komoditas lokal yang masih bertahan secara kontinyu dari segmen hasil bumi adalah pisang, karet dan produk kelautan, dan dari segmen seni kriya hanya berupa ornamen berbahan kayu namun jumlah dan nilai artistiknya belum memberikan kabar menggembirakan.  

rai balaki

 Gbr. 1 Salah satu perhiasan kepala perempuan diproduksi pada masa lampau

Kondisi pasar yang terjadi selanjutnya lebih sering tidak menjanjikan bagi masyarakat sebagai pelaku ekonomi (pengrajin dan petani) karena harga tidak bersaing dan posisi tawar dari produk lokal tersebut sangat lemah, sekali pun kuotanya sudah cukup memadai. Sebut saja harga getah karet yang lebih sering tertekan dan terpuruk bahkan cenderung tidak bisa bereaksi positif dibanding tetap tingginya permintaan produk berbahan baku getah karet di pasar dunia. Beberapa petani untuk sementara waktu “terselamatkan” oleh karena musim buahan tahunan yang membludak seperti durian, kuini, mangga, langsat, manggis dan duku. Itu terjadi hanya antara Juni-September. Perlu dicatat bahwa akhir tahun di Kepulauan Nias sudah memasuki musim penghujan bahkan bisa saja terjadi hingga bulan Februari. Panen getah karet akan sulit dilakukan oleh penderes tradisional dalam masa penghujan.

NTbanua

Foto: NTbanua, 2014

Gbr. 2 Anyaman tikar diekspor hingga ke Jerman antara tahun 1900-1980

Implikasinya adalah pendapatan petani lokal tetap rendah dan mereka dituntut lebih keras lagi untuk mengusahakan alternatif  bertani bila salah satu lahannya sedang tidak dalam masa panen yang kondusif atau telah berlalu masa panennya. Pola bertani menjadi terbentuk demikian setiap tahunnya sehingga konsistensi kerja dan produksi termasuk di dalamnya kualitas produk tidak dikenal di sini. Kecenderungan bekerja dapat digambarkan sebagai “apa yang saat ini dapat dipanen, itu yang saat ini dikerjakan segera dalam jumlah sebanyak-banyaknya semampu dikerjakan”. Sehingga tidak heran bila petani pada akhirnya mengucapkan kalimat berikut “awai ndrohu-ndrohu”, yang maknanya pasrah (karena) telah mengupayakan segala sesuatunya.

Demi mendorong percepatan berkibarnya kembali produk lokal, beberapa upaya dilakukan berupa:

  1. Menginventarisir ulang kuantitas dan kualitas produk unggulan dan memberinya peran sebagai bagian dalam kehidupan/kebutuhan sehari-hari masyarakat,
  2. Melakukan studi dan kajian atas produk lokal dari hulu ke hilir secara berkala,
  3. Mempersiapkan masyarakat melalui kampanye dan penyuluhan yang dilakukan secara marathon, dalam hal ini penulis menyarankan dimulai sedari dini pada kelompok pendidikan sekolah dasar,
  4. Melakukan pendekatan kepada para pewaris keahlian seni untuk bersedia turun gunung, berproduksi kembali dan melakukan transfer pengetahun dan teknologi kepada generasi penerusnya,
  5. Memulai kembali untuk produksi hal-hal kecil yang sederhana namun diminati pasar,
  6. Memberdayakan kelompok kerja khususnya perempuan dan tuna karya,
  7. Pendanaan semua proses produksi harus dimulai dari volume paling realistis untuk dituntaskan oleh pengrajin. Produk high-end seperti ornamen berbahan kayu, batu dan emas membutuhkan banyak sumberdaya yang harus dipersiapkan secara matang namun sebenarnya merupakan ikon kemegahan kekhasan budaya Nias itu sendiri,
  8. Promosi produk pangan lokal secara rutin di berbagai kota besar sekaligus mempresentasikan hasil olahannya dalam kuliner khas asli dari Kepulauan Nias,
  9. Membangun jaringan pemasaran dari mulut ke mulut dan pertemanan serta mengarahkan pengunjung kota ke sentra-sentra produksi,
  10. Secara berkelanjutan membina dan mengembangkan pengetahuan petani dan pengrajin untuk meningkatkan kualitas produksinya, dan
  11. Menyesuaikan produksi dengan permintaan pasar dan trend.

Peranan pelaku ekonomi, sumber pendanaan dan pengambil keputusan dari hulu ke hilir menentukan bergaungnya kembali produksi lokal. Sumber pendanaan didapat dari perbankan, koperasi, pribadi perorangan, organisasi kemasyarakatan atau non-pemerintah dan instasi pemerintah. Pengambil keputusan di sini adalah semua yang berperan dan terkait pada tahapan pada produk yang akan dipasarkan.  Pada prakteknya, hanyalah upaya keras pelaku ekonomi yang siap bersaing yang akan mampu menggaet perhatian dan dukungan dari pengambil keputusan dan pendukungan pendanaan. Etos pelaku ekonomi yang terus mengembangkan diri dan usahanya ini yang mampu bertahan dan mengenalkan diri sebagai pelaku yang konsisten. Semestinya target ini dapat dicapai dalam waktu singkat karena perdagangan bebas telah di depan mata, atau seseorang dari luar negeri tiba-tiba tanpa terduga memperdagangkannya di Nias. Belajar dari strategi desa-desa di Jerman, tidak ada pasar yang abadi akan tetapi demi mempertahankan eksistensi produk lokalnya, masyarakat setempat mempertahankan dan melestarikan pasarnya dengan menjadikan produk lokalnya sebagai bagian dari kebutuhan keseharian. (ON)

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>