Inisiatif dan Kreatifitas Pendampingan Proses Mendidik Anak (Bagian I)

Penulis: Noniawati Telaumbanua (2014)

Menjawab minat anak dan dukungan lingkungannya untuk mencintai aktivitas pendidikan adalah merupakan seni tersendiri dalam mendampingi tumbuh-kembang anak. Umumnya, pada hari pertama sekolah anak akan sangat bersemangat dan memimpikan banyak hal selama mereka di bangku sekolah. Seiring dengan berjalannya waktu, perlahan mungkin akan terlontar berbagai macam keluhan anak hingga dengan keluhan paling ekstrem yang berujung pada ketidakmauan untuk kembali ke sekolahnya.

Pengalaman mendampingi anak bersekolah di berbagai tempat di Eropa dan di Indonesia telah memberikan beragam acuan dan pilihan dalam mengambil sikap di mana anak dengan sendirinya siap menimbang keinginan dan ketidakinginannya pada situasi sekolah dan nilai-nilai pendidikan. Puncaknya, yang diharapkan dari anak adalah kesiapannya secara mandiri untuk bersedia dididik dan terdidik melalui berbagai pendampingan yang diupayakan oleh keluarga dan lingkungannya.

  1. Upaya Orangtua dan Peranan Ibu

Pendidikan paling utama berawal dari dalam rumah dan keluarga inti anak. Apakah kedua orangtua bekerja atau tidak, pada dasarnya sama berhasilnya apabila pendidikan dari dalam rumah sendiri telah diawali dengan sikap peduli akan tanggung jawab masa depan pendidikan anak. Mendidik anak di kota dan di desa tidaklah sama. Pengaruh sosial budaya dan panutan yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat dalam kehidupan kesehariannya memberikan beragam pengaruh pada anak. Namun, masing-masing orangtua di dua tempat berbeda ini memiliki cerita sendiri yang hampir sama, yaitu sikap yang diambil untuk mendidik anak.

Dengan membandingkan beberapa situasi bertolak belakang yang terjadi di desa di negara berkembang dan di kota maju di Indonesia serta di Eropa, beberapa pengalaman berikut bisa menjadi perbandingan bagaimana keluarga inti menyikapi kebutuhan yang berkaitan dengan pendidikan anak.

Di desa di Indonesia, pada umumnya ibu berada di rumah bersama anak-anak sepanjang hari. Ada pula yang berada di kebun atau sawah sehariannya sehingga anak yang tidak bersekolah akan turut serta dan anak yang bersekolah akan menyusul ibunya di kebun.  Terdapat pula anak-anak yang tidak turut ke ladang/kebun di mana mereka diasuh oleh kakek, nenek dan atau sanak keluarga yang tinggal bersama mereka. Interaksi ibu-anak ini terjadi setiap kali mereka berkumpul bersama. Waktu yang lebih fleksibel dan lowong pada kelompok ibu di desa merupakan peluang terbaik dalam mendidik anak dan menciptakan ikatan emosional yang sangat tinggi. Tidak ada tekanan terburu-buru dengan waktu dan target lebih yang hendak dicapai. Mungkin fasilitas pendukung pendidikan formal tidaklah lengkap, namun para ibu di sini berpeluang besar menabur pengetahuan kearifan lokal mereka.

Berbeda dengan di kota maju di Eropa, pada umumnya terdapat kelompok ibu, yaitu:

a) ibu yang tidak bekerja, biasanya memutuskan untuk mengasuh bayi hingga balita. Kelompok ini ada yang kelak memutuskan untuk kembali bekerja dan ada yang tetap menjadi ibu rumah tangga;

b) ibu bekerja paruh waktu atau bekerja penuh untuk mencapai target karier, keuangan dan atau strata sosialnya. Ibu yang bekerja paruh waktu akan mengambil waktu kerja hanya beberapa jam saja dalam seminggu, anak akan dititipkan pada kakek, nenek atau saudara dekat atau di tempat penitipan anak. Kelompok ibu bekerja ini juga memiliki alternatif lain dalam mengasuh anak-anak mereka yaitu dengan membentuk kelompok sosial yang biasanya didasari pada kesamaan latar belakang atau berada dalam satu lingkungan. Sebagai contoh, para ibu bekerja paruh waktu yang juga berstatus mahasiswi, mereka biasanya membentuk kelompok pengasuhan anak-anak di mana setiap ibu secara bergantian mendapat jadwal tanggung jawab mengasuh anak-anak mereka ketika yang lain sedang bekerja atau kuliah. Kelompok seperti ini juga terbentuk karena berdasarkan kesamaan kebutuhan dan  adanya hubungan sebagai sahabat lama, kekerabatan atau yang dibentuk oleh organisasi sosial kota/gereja/NGO. Kelompok pengasuhan dan penitipan anak seperti ini memiliki berbagai program untuk mengisi waktu secara berkualitas bersama anak-anak asuhan.

Dari gambaran situasi kelompok ibu tersebut di atas, terdapat kesamaan yaitu adanya upaya menciptakan interaksi ibu-anak dengan mencapai berbagai alternatif yang sesuai dengan realitas kehidupan keseharian ibu dan anak. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Inisiatif ibu dan keluarga bersama orang-orang terdekat merupakan inti pencapaian dalam mendampingi dan mendidik anak secara berkualitas. (Bersambung)

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>