Mengenal Kepulauan Nias Lebih Dekat Melalui Event “The Succulent Tanö Niha”

Penulis: Noniawati Telaumbanua (2014)

                Kejutan menarik datang  dalam event istimewa pada hari Minggu, 16 Februari 2014 yang lalu di Jakarta.

Melalui serangkaian pendekatan, diskusi dan persiapan matang, akhirnya sejumlah kawula muda Ono Niha yang berpartisipasi dalam komunitas Ono Niha, Lisa Virgiano dari Komunitas Azanaya dan Noniawati Telaumbanua mewujudkan sebuah event yang mengenalkan Kepulauan Nias dari sudut pandang berbeda. Sebagai acara ramah-tamah dirancang untuk menjembatani sejumlah kalangan dari berbagai latarbelakang untuk mengenal Kepulauan Nias dalam sebuah perhelatan sehari menjadi visi sejumlah kawula muda dari bagai daerah ini.Di pertemuan ini dipresentasikan sebuah perjalanan perkembangan Kepulauan Nias pada fase-fase penting dan sekaligus melihat budaya kulinernya lebih dekat lagi yang bertema lengkap: “The Regional  Development Of Nias (1800-2013) and The Succulent Tanö Niha: From Peripheral to Medial Cuisines of South Nias Food’s Culture”.

 

Mengingat tempat yang terbatas, animo peserta terlihat sejak pendaftaran dibuka, yang mana sebagian besar telah lama menyimpan tanya tentang apa saja yang berlangsung dalam perkembangan perdesaan tradisionalnya dan pesta lokal dalam kehidupan Ono Niha (behind the scene of the rural development and local festives of Nias People).  Bertempat di Restoran Prima Handayani, beberapa hal yang selama ini masih menjadi pertanyaan dan terasa “kurang lengkap” dalam diskusi-diskusi tentang Kepulauan Nias sedikitnya terjawab. Keingintahuan sekitar 100 orang pengunjung layak diapresiasi mengingat minimnya informasi dan pengungkapan ritual-ritual dan atau kebiasaan kecil dalam keseharian kehidupan Ono Niha, yang mana telah mempengaruhi tata cara bermasyarakat dan tata cara membangun perkampunganya. Ritual ‘kecil” tersebut diantaranya mengenai budaya kulinernya. Faktanya, kebiasaan kecil dalam tata cara makan dan kuliner di dalam keluarga inti dan keluarga kerajaan di Nias umumnya menjadi tolok ukur pada kebiasaan perkampungan yang didirikannya/dipimpinnya dan untuk selanjutnya sebagai latar belakang dalam membangun kampung dan fasilitasnya. Acara yang kerap diselingi dengan gelak tawa pada saat berbagai fakta rumit, lucu dan unik dalam pembangunan dan budaya Nias Selatan namun ternyata prinsipil dalam keseharian dijelaskan melalui pendekatan dan penerjemahan makna yang lebih mudah dipahami.

 

Pada sesi kuliner pengunjung diajak berkunjung melalui serangkaian slide show tentang falsafah Sumane dalam kuliner Nias Selatan, makanan dalam budaya, tata cara makan khas, bahan dan teknik memasak. Khusus untuk kuliner yang disajikan, semua bahan utama seperti hasil laut dan hasil pertanian berupa sayuran, buahan dan beras dibawa langsung dari Nias Selatan. Hasil pertanian yang dimanfaatkan pada acara ini keseluruhannya merupakan produk organik lokal asli daerah Nias Selatan melalui pemesanan khusus. Bahkan bumbu asli juga digiling secara manual demi mendapatkan citarasa aslinya. Tidak ketinggalan juga beberapa perangkat masak khas daerah Selatan Nias pun diboyong. Tim ahli masak yang tergabung dari beberapa generasi Nias juga dengan tekad berani mengusung tema kuliner sehat. Pengunjung diajak untuk menikmati hidangan yang diproses dan disajikan tanpa menggunakan bahan penyedap, tanpa pewarna dan tanpa bahan pengawet.

 

Turut hadir dan mendukung acara tersebut adalah sejumlah besar petinggi media di Indonesia dan luar negeri, beberapa tokoh budaya dari berbagai daerah, petinggi dari berbagai instansi dan organisasi, pengamat kuliner dalam dan luar negeri, sejumlah guru besar dan praktisi pendidikan, pengusaha berbagai bidang jasa serta peneliti yang menaruh perhatian besar pada Kepulauan Nias.

 

Sejumlah media tidak ketinggalan memberitakan event ini. Media online berikut memuat beragam kesan mengenai acara yang memang telah lama dinantikan ini  seperti pada pemberitaan dengan tajuk Mengenal Tradisi Kuliner Nias Selatan :: Dewimagazine.com ::; The natural, rich taste of Nias cuisine | The Jakarta Post; Mengenal Nias Selatan Lebih Dekat Lewat Semangkuk Sup Babae | FIMELA. Bahkan, dua buah media tidak ingin ketinggalan dan secara mendadak memberikan kejutan mendatangi tim kuliner disaat sedang memasak di dapur dengan menurunkan berita Babae, Sup Krim Kacang dari Kabupaten Nias Selatan yang Gurih Bernutrisi;  myTRANS • Mengenal Kuliner Khas Nias Selatan Bersama Noniawati Telaumbanua; dan myTRANS • Pepes Ikan Laira, Khas Nias Selatan. Majalah Sedap juga tidak ketinggalan memuat reportase lengkap dalam Edisi 3/XV/2014 pada Rubrik Kenal Tradisional. Pemberitaan tersebut tidak berakhir begitu saja, majalah Femina No. 20/XLII Tgl. 17-23 Mei 2014 tidak tanggung-tanggung memuat sebanyak sebelas lembar halaman pemberitaan tentang event ini, kuliner Nias dan berikut ulasan tentang budayanya.  (ON)

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

2 thoughts on “Mengenal Kepulauan Nias Lebih Dekat Melalui Event “The Succulent Tanö Niha”

  • May 30, 2014 at 9:05 PM
    Permalink

    Pulau Nias nan idah,,,,terkenal budaya n kulinernya….

    Reply
  • June 10, 2014 at 5:24 PM
    Permalink

    Bu Wati yang baik,
    terima kasih atas kesediaannya mendukung komunitas di setiap event.

    Salam sukses selalu

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>