Desa Bawödobara dan Kemegahan Anyaman Sinasa

Penulis : Noniawati Telaumbanua (2013)

            Memasuki wilayah Telukdalam, Kabupaten Nias Selatan perjalanan akan melewati sebuah pesisir pantai wilayah Sa’ua.

Pesisir ini dikenal dahulu kala merupakan bagian kerajaan Öri To’ene’asi. Salah satu perkampungan tradisional yang hampir punah terletak di wilayah tersebut yaitu Desa Bawödobara.

 

Kisah heroik dan sejarah kekayaan desa tradisional ini hampir tidak dikenal lagi oleh generasi masa sekarang kecuali melalui peninggalan dan laporan tertulis dalam buku-buku kuno serta berbagai koleksi yang dilakukan pada masa pendudukan Belanda. Namun, dari sekian banyak peninggalan bersejarah tersebut masih ditemukan sisa-sisa kemegahan beberapa warisan budayanya. Warisan budaya tersebut dilestarikan dikemudian hari “tanpa sengaja” dan menjadi saksi terakhir bukti kekayaan ornamen yang pernah ada di masa lampau dalam sejarah penduduk Desa Bawödobara.  Peninggalan budaya yang dilestarikan sayangnya hanya dimiliki oleh beberapa orang tua. Perlahan hal ini pun akan menghilang seiring dengan minimnya minat dan tiadanya kewajiban pengajaran di masyarakat lokal untuk melestarikan keahlian para tetua.

 

NTbanua

Tufo Nisora (Foto: NTbanua, 2013)

Dari segelintir sisa kejayaan dan kemegahan masa lampau tersebut, beberapa orang perempuan masih tekun memelihara kebiasaan khusus yang merupakan keahlian turun-temurun yang hanya dimiliki oleh kaum perempuan di desa ini. Salah satunya adalah menganyam tufo (tikar) dan bola nafo (tempat sirih). Keahlian khusus yang hampir punah ini terletak pada teknik pengerjaan anyaman khas To’ene’asi dan hanya diketahui oleh beberapa orang tua saja.

 

Tikar yang diproduksi secara khusus ini bukanlah sembarang tikar. Tikar dalam budaya To’ene’asi memiliki makna dan peran beragam sesuai peruntukannya dalam acara adat. Selain itu, tikar yang diproduksi memiliki motif dan warna yang dibuat dengan teknik khusus. Anyaman tikar khas ini memang rumit karena motifnya tidak sembarangan dan pengerjaannya melalui berbagai proses yang memakan waktu. Selain itu, bahan tikar lokal yang disebut sinasa,  yaitu sejenis tanaman pohon palem lokal juga sudah hampir punah. Anyaman yang kaya motif ini menjadi ciri khas dari To’ene’asi.

 

Dari penuturan pengrajin anyaman tikar, mereka masih mempertahankan kegiatan menganyam untuk memenuhi permintaan khusus beberapa keluarga dalam pesta adatnya dan karena masih terdapat permintaan anyaman dari pengunjung asal Jerman yang datang berkala. Kisah unik pemesanan oleh pengunjung Jerman berawal dari perkenalan para tetua dengan beberapa misionar di masa lampau, yang mana pelatihan secara rutin diadakan dan karya mereka secara turun-temurun dipromosikan dari mulut ke mulut. Pesanan lainnya berdatangan dari Kota Gunungsitoli berupa bola nafo (tas tempat sirih) yang dibuat menyesuaikan dengan adat yang berlaku di Gunungsitoli.

 

Berbagai upaya dilakukan untuk melestarikan anyaman ini telah dilakukan oleh banyak pihak. Dalam berbagai kesempatan tidak sedikit yang mencoba menggaungkannya untuk menumbuhkan minat generasi muda Ono Niha untuk turut serta dalam pelestariannya. Komunitas Ono Niha secara rutin menjembatani kesempatan bagi pengunjung untuk melihat aktifitas pengrajin secara langsung dan membuka kelas belajar mengenal anyaman khas To’ene’asi di Desa Bawödobara. (ON)

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>