Mengembangkan Imajinasi Sekaligus Pemahaman Sejarah Pada Anak Melalui Museum

Penulis: Noniawati Telaumbanua (2009)

       Animo dan rutinitas kunjungan ke museum pada sebagian besar masyarakat kita belumlah merupakan sebuah kebutuhan dan budaya keseharian.

Disamping minimnya kesadaran masyarakat untuk menghargai kekayaan pusaka dan peninggalan bersejarah, juga faktor rendahnya tingkat sosial ekonomi kelompok masyarakat ditengarai sebagai alasan mengapa peranan museum tidak begitu penting. Kaum awam melihat bahwa museum adalah sebuah tempat membosankan dan ditujukan hanya bagi khalayak berkecukupan. Bagi sebagian besar pengelola museum, hampir semuanya menyatakan bahwa museum berbiaya tinggi dan tidak semua pemerintah setempat menaruh perhatian akan keberlangsungan museum di kotanya. Sebagian pengelola museum berawal dari mengoleksi barang-barang tertentu dan kemudian memamerkannya dalam museum pribadi yang dikombinasikan bersama bidang usaha jasa lain seperti cafe restoran, taman bermain atau hotel.

             Museum di Indonesia umumnya hanya terdapat di kota-kota besar dan yang paling atraktif untuk dikunjungi oleh seluruh kelompok umur umumnya terdapat di Pulau Jawa dan Bali. Pada sebagian museum, demi menarik minat pengunjung, pengelola menjadwalkan berbagai kegiatan yang mengajak berbagai kelompok generasi dan menawarkan berbagai wahana pendukung bagi kelompok tersebut. Kesadaran pihak pengelola bahwa pengunjung dalam kelompok umur balita hingga anak sekolah adalah target utama untuk mengembangkan sikap penghargaan akan sejarah dan warisannya, akan terlihat pada gencarnya pemasaran yang dilakukan sebuah museum dan tersedianya infrastruktur pendukung untuk pengunjung istimewa tersebut.

             Kepiawaian dalam membidik pasar pengunjung telah dibuktikan oleh Museum Coklat di Kota  Köln/Cologne, Jerman. Tema coklat telah menarik minat semua pengunjung dari semua kalangan melalui penawaran wahana dan fasilitas pendukung yang telah dipersiapkan dengan baik serta up to date. Sesaat ketika pengunjung menjejakkan kaki di dalam museum tersebut, maka prinsip sebuah biji kakao menjadi coklat telah dipropagandakan secara aktual, singkat dan menarik. Museum ditata sedemikian rupa mengikuti atmosfir keempat musim yang sedang berlangsung pada saat itu, bahkan fasilitas pendukung seperti toko buku, toko permen, restoran dan cafe juga turut menyesuaikan diri. Pengunjung di sini sudah pasti akan melangkah mulai dari sekadar menikmati permen coklat hingga tanpa disadari telah mengikuti semua sesi rumit aktivitas industri kakao hulu-hilir dan perkuliahan singkat sehubungan dengan tema kakao. Pada wahana rumit seperti proses industri pengolahan biji kakao, semua pengunjung boleh terlibat dalam “kegiatan industri” tersebut secara langsung dan disuguhkan alternatif pilihan pula berupa fasilitas multimedia. Dalam waktu singkat, di museum ini dijamin bahwa anak-anak tanpa kecuali telah menyerap dengan baik prinsip produksi coklat teoretis dan prakteknya, iptek hingga sejarah singkat yang berkaitan dengan coklat.

             Di salah satu bagian Museum Quartier Kota Wina, Austria dan di Pulau Mainau, Jerman, terdapat sebuah lokasi museum bernuansa tropis yang sangat familiar bagi anak dan selalu up to date di setiap musim yaitu museum yang dikenal sebagai Rumah Kupu-kupu. Program pada museum ini terintegrasi dalam kegiatan kurikulum dan kegiatan ekskul sekolah dengan penawaran super menarik dan istimewa. Rumah kupu-kupu di Wina anak-anak biasanya diberi kebebasan untuk dibagi dalam kelompok kegiatan sesuai pilihannya sendiri, misalnya kelompok pengelola taman bunga, kelompok observasi kepompong, dll. Mereka diberi kesempatan untuk terlibat langsung dalam pada proses terbentuknya seekor kupu-kupu mulai dari persiapan lahan dan bunga hingga metamorfosa terjadi dan pembudidayaannya. Dalam pembelajaran tersebut melalui berbagai multimedia, anak-anak akan berkenalan dengan benua lain dan kekayaan flora dan kupu-kupu yang dimiliki. Anak-anak yang telah memilih kegiatan di sini dipastikan akan rutin mengunjungi museum karena memiliki ikatan batin untuk turut “bertanggung-jawab” akan keberhasilan eksperimen pilihan mereka. Di Pulau Mainau rumah kupu-kupu dirancang seolah pengunjung sedang berjalan santai di sebuah kebun di daerah tropis. Kupu-kupu yang berasal dari berbagai benua beterbangan dengan bebas dan anak-anak telah diberi pemahaman sejak dari pintu masuk bahwa mereka tidak diperkenankan menyentuh dan menangkap kupu-kupu dengan sengaja. Di museum ini anak-anak secara mengejutkan pasti mematuhi peraturan dan begitu berhati-hati bercengkrama dengan kupu-kupu. Banyak tips diperoleh di sini melalui permainan untuk memudahkan anak-anak menghafal jenis, ciri-ciri dan nama kupu-kupu, seperti permainan kartu memori. Kartu memori yang diterbitkan dan dipasarkan oleh yayasan museum merupakan permainan kartu yang menampilkan pasangan foto kupu-kupu terlengkap dari seluruh dunia dimana anak diajak dalam permainan tebak-tebakan gambar, motif, warna, negara asal dan nama latinnya.

Beberapa faktor yang menjamin keberhasilan pencapaian tujuan museum dalam memasyarakatkan tema yang diusungnya kepada pengunjung cilik, adalah sebagai berikut:

1.       Museum memiliki koleksi asli, menarik dan mampu menciptakan ikatan batin dengan pengunjung dan masyarakat sekitarnya;

2.       lokasi yang strategis;

3.       tersedianya koneksi jalur transportasi yang nyaman dan aman bagi anak-anak;

4.       tema museum disesuaikan dengan musim atau trend yang berlaku, dirangkai dalam berbagai aktivitas fisik-non fisik dan   menyediakan wahana yang ditujukan pada pengunjung cilik;

5.       durasi kunjungan per wahana tidak terlalu lama tetapi disertai berbagai aktifitas yang menyebar  informasi berkualitas singkat dan padat;

6.       museum terawat dengan baik;

7.       promosi yang rutin;

8.       dukungan dan kerjasama dengan institusi pendidikan, pemerintah dan organisasi;

9.       museum terhubungkan juga dengan berbagai fasilitas kemudahan kota wisatanya;

10.    didukung oleh sumber daya manusia.

Peranan museum cepat atau lambat akan semakin menguat dalam budaya keseharian masyarakat kita seiring dengan meningkatnya kesadaran pemahaman sejarah dan inisiatif untuk melestarikan budayanya. (ON)

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>